By | February 28, 2021

Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX DPR Dmanuel Melkiades, mengatakan vaksin Nusantara diperkenalkan mantan Menteri Kesehatan Dr. Terawan Agus Putranto disebut-sebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan faks COVID-19 lainnya. Antara lain, suntikan tunggal dapat meningkatkan resistensi dan menghasilkan antibodi hidup.

Melki mendengar ini dari para ilmuwan yang sedang menyelidiki penerapan uji klinis untuk vaksin rumahan yang dilakukan oleh Dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 16 Februari 2021.

“Menurut peneliti, vaksin dari Indonesia bisa disuntikkan sekali untuk selamanya. Karena antibodi COVID-19 bisa dikenali dan disuntikkan ke dalam sel darah, (vaksin) bisa mengenali kehidupan SARS. -CoV- 2,” ucapnya. Melki, yang kami hubungi lewat telepon pada Kamis, 18 Februari 2021.

Pernyataan lain yang didengar anggota DPR dari Fraksi Golkar adalah sel dendritik masih bisa mengenali virus corona, meski belakangan bermutasi. Namun, klaim tersebut diklaim belum diselidiki oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Jika pernyataan ini benar dan terbukti, maka vaksinnya juga stabil,” imbuhnya.

Apa komentar ahli epidemiologi tentang klaim peneliti fax Indonesia tentang Dr. Kariadi?

Ahli epidemiologi memperingatkan pemerintah untuk tidak melampaui vaksin nasional

Sementara itu, Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Griffith University di Brisbane, Australia, memperingatkan pemerintah untuk tidak mewajibkan atau mengklorinasi vaksin Indonesia. Menurutnya, pernyataan tersebut sangat absurd.

“Mana logikanya? Orang tidak bodoh, apalagi Gen Z dan orang terpelajar perlu memahami dan menegakkan (klaim),” kata Dicky saat menelepon kami, Jumat (19 Februari 2021).

Dia menekankan bahwa apa yang kami sebut pembaruan mungkin tidak segera muncul. Kemampuan dan penelitian ini telah dikembangkan selama beberapa dekade.

“Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai negara pertama di dunia (menggunakan teknologi sel dendritik untuk membuat faks). Dunia akan diselamatkan – tambahnya.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah dalam menangani pandemi jangan fokus mendukung kebijakan ekonomi. Dalam hal terjadi pandemi, kebijakan harus didasarkan pada data ilmiah yang diverifikasi. Tak heran jika situasi di Tanah Air, meski pandemi yang berlangsung setahun, tak kunjung membaik.

“Tidak semuanya terbukti secara ilmiah, seperti GeNose Breath Test sebagai vaksin Indonesia,” ujarnya.

2. IDI meminta para ilmuwan untuk menyampaikan data bahwa vaksin dapat menciptakan antibodi bagi kehidupan.

Zubairi Djoerban, Ketua Kelompok Kerja Ikatan Dokter Indonesia (IDI) COVID-19, juga memberikan komentar tegas. Dia mempertanyakan data untuk mendukung klaim bahwa vaksin nusantara dapat menghasilkan antibodi manusia seumur hidup.

“Bicara soal tudingan, harus dikasih. Pengobatan berbasis bukti. Jangan sampai menyesatkan publik, ”cuit Zubairi di akun media sosialnya, Jumat (19 Februari 2021).

Menurut Zubairi, para ahli belum menjawab sudah berapa lama antibodi dalam vaksin COVID-19 Sinovac Biotech, Moderna atau Pfizer.

“Saya sekali lagi mendukung upaya untuk menghilangkan faks, misalnya. Tapi tunjukkan di depan umum. Dengan cara ini Anda tidak akan bersuara. Vaksin flu hanya bertahan sekitar satu tahun karena dipengaruhi oleh mutasi virus. dia menambahkan.

Bahkan, dokter kepala menanyakan alasan penggunaan vaksin Indonesia yang berlebihan.

3. Terawan tidak dapat mengklaim telah menemukan teknologi sel dendritik.

Nusantara dikembangkan dengan menggunakan teknologi sel dendritik. Teknologi ini banyak digunakan untuk pengobatan pasien kanker.

Namun, menurut Dicky, ada kesalahpahaman di ruang publik tentang vaksin tersebut. Ia mengatakan teknologi sel dendritik pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat oleh perusahaan farmasi Aivita Biomedical. Perusahaan farmasi pertama kali mencoba mengembangkan COVID-19 dengan sel dendritik, tetapi gagal karena membutuhkan biaya tinggi.

“Tapi sekarang sepertinya sudah terbentuk opini dan Pak Terawan sedang mengkampanyekan teknologi sel dendritik. Ini mungkin tidak terjadi di dunia sains. Mereka melanggar kaidah etika,” kata Dicky.

“Kalau dilanggar secara etis, bagaimana dunia mempercayainya,” ujarnya lagi.

Artikel Terkait : Ekspor Indonesia Mulai Bangkit Di Tahun 2021